fbpx
bajakah borneo

Bajakah Borneo, Sebuah Kearifan Lokal Yang Mendunia

bajakah borneo – Berita gembira dari tiga siswa SMA 2 Palangka Raya, Kalimantan Tengah telah tersiar luas. Mereka berhasil mengharumkan nama Indonesia dalam kancah olimpiade internasional. Ketiga siswa ini merupakan pencetus gagasan untuk meneliti manfaat kayu bajakah sebagai penyembuhan untuk kanker payudara.

Nama-nama mereka adalah  Yazid Rafly Akbar, Anggina Rafitri dan Aysa Aurelya Maharani . Tidak tanggung-tanggung, hasil penelitian mereka diganjar berupa Gold Medal di World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan.

Sugianto Sabran yang tidak lain adalah Gubernur Kalimantan Tengah bahkan berencana mematenkan hasil penelitian kayu bajakah dari ketiga siswa tersebut. Hal ini untuk melindungi hasil penelitian mereka tentan bajakah sebagai penyembuh kanker payudara akan diklaim dari pihak lain.

Sugianto pun sudah memerintahkan jajarannya, yaitu Sekda dan Kadis Kesehatan serta instansi terkait lainnya agar segera membantu hasil penelitian ini supaya bisa segera dipatenkan. Hal ini tidak lain bertujuan agar mereka bisa memperoleh paten atas Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Awal Kisah Bajakah Borneo Penyembuh Kanker

Apa yang pertama kali mendasari penelitian ini sehingga mereka memutuskan untuk meneliti akar kayu bajakah sebagai obat kanker payudara? Ternyata mereka terinspirasi oleh kearifan lokal suku Dayak yang telah turun temurun.

Yazid adalah yang pertama kali terilhami untuk meneliti mengenai manfaat kayu bajakah. Yazid mengetahui manfaat kayu bajakah sebagai pengobatan penyakit kanker payudara tersebut berasal dari neneknya.

“Saya mendapatkan cerita tersebut dari nenek saya yang terkena kanker payudara. Ia sembuh setelah meminum air rebusan bajakah” Ujar Yazid saat diwawancara oleh salah satu media online.  “Itulah mengapa saya mengangkat kearifan lokal ini untuk menjadi karya ilmiah dalam perlombaan tingkat nasional”.

Perlombaan tingkat nasional tersebut adalah Youth National Science Fair 2019 (YNSF) yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung tanggal 10 Mei 2019. Dalam ajang tersebut, Yazid dan kawan-kawan berhasil memenangkan medali emas.

Yazid bercerita bahwa ia dan kawan-kawannya beserta guru pembimbing sudah melakukan penelitian kandungan kayu bajakah tersebut di laboratorium Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Itulah sebabnya mereka yakin dengan hasil penelitiannya sebelum mereka membawa ke ajang lomba tersebut.

Dari hasil uji lab Universitas Lambung Mangkurat, ditemukan bahwa terdapat kandungan zat antioksidan yang melimpah didalam kayu bajakah. Antioksidan ini sangat berguna untuk menumpas sel – sel kanker payudara.

Kayu bajakah adalah jenis tumbuhan liar khas pulau kalimantan. Diketahui bahwa habitat bajakah berada di hutan rimbun yang terkena sedikit pancaran cahaya matahari. Tumbuhan bajakah telah lama digunakan oleh warga lokal suku Dayak secara turun temurun untuk pengobatan berbagai penyakit, termasuk kanker.

Sependapat dengan Yadiz, Anggina ( salah satu dari anggota tim ) juga merasa optimis jika hasil penelitian mereka bisa mengangkat kearifan lokal Kalimantan Tengah didalam dunia medis. Hasil penelitian kayu bajakah itu akan terus disempurnakan ujarnya.

“Saya sangat senang bisa mengenalkan kepada orang banyak tentang  kearifan lokal Kalimantan Tengah yang bisa bermanfaat untuk masyarakat” ujarnya.  “Kedepannya, kami akan meneliti lebih dalam supaya bisa lebih bermanfaat dan nyata”.

Bajakah borneo ini menjadi salah satu penggerak ekonomi bagi masyarakat Kalimantan. Permintaan kayu bajakah diketahui telah mencapai ratusan kilogram perhari ujar salah satu penjual kayu bajakah online.

Tinggalkan komentar